Postingan

MENGAPA TANGAN WANITA HARUS SELALU KOTOR?

Mengapa tangan wanita harus selalu kotor untuk membuktikan bahwa ia berguna?. Jangan salahkan tangannya jika menjadi kasar. Barangkali hidup terlalu lama meminta ia mengerjakan segalanya tanpa pernah bertanya apa yang ingin ia kerjakan. Apabila suatu hari kau melihat tangannya tak lagi bersih, jangan buru-buru menyebutnya perempuan biasa. Sebab, di sela kuku yang menghitam dan telapak yang mengeras. Ada rumah yang ia bangun. Ada keluarga yang ia selamatkan. Ada dunia kecil yang tetap berdiri karena kedua tangannya tak pernah benar-benar berhenti. Padahal, barangkali yang paling ingin ia lakukan bukanlah mencuci seluruh dunia. Melainkan sekali saja mencuci kedua tangannya dari segala yang bukan pilihannya.

ULAT MENITIPKAN CAKRAWALANYA

Semoga sayapmu selalu menemukan langit yang selama ini kau cari. Terbanglah sejauh yang kau mau, aku akan tetap menjadi angin yang diam-diam mendoakan arahmu. Hanya saja, ada sedih yang tak pandai kusembunyikan. Sebab jika kau adalah burung yang memang ditakdirkan mengejar cakrawala, aku mungkin hanyalah ulat yang pernah singgah di ranting yang sama. Tak apa. Barangkali memang begitulah cara langit mengajarkan makhluk kecil tentang kehilangan. Ada yang diberi sayap untuk menjauh, ada yang diberi kepompong untuk belajar tinggal. Maka terbanglah. Jangan kau kecilkan langitmu, hanya karena aku belum punya sayap. Bawalah sedikit cakrawalaku bersamamu yang pernah kutitipkan diam-diam pada ujung sayapmu. Sebab mungkin, suatu hari nanti, ketika kau menoleh dari kejauhan. Kau tak lagi menemukan ulat di ranting yang kau huni. Barangkali aku telah menjadi kupu-kupu, menemukan langitku sendiri, dan tak lagi menitipkan cakrawala kepada siapapun.

BRANKAR BERSELIMUT DOSA

Denyit roda tak kuhirau lagi, hanya denyut nadi yang kuharap bersemayam dalam jelma-Nya. Di atas ranjang besi itu, tubuh renta kakek tampak begitu kecil seolah dunia telah mengecilkan segala yang pernah gagah darinya. Tangannya gemetar, jari-jarinya seperti sedang menghitung sisa waktu yang terselip di antara lipatan sprei rumah sakit. Aku menatap wajahnya lama, terlalu lama, hingga lupa cara membedakan antara napas dan doa. Dulu, tangan itulah yang menuntunku belajar berbagai hal, menepuk bahuku saat aku gagal, dan mengajarkan bahwa hidup bukan perkara menang, melainkan perkara bertahan. Namun, kini tangan itu seperti berjuang melawan udara sendiri. Aku ingin berbicara, tapi lidahku seolah ikut diseret mesin pernapasan yang berdengung di sampingnya. Aku hanya bisa mendengar bisikan suster, suara monitor, dan detak jantungku sendiri yang terasa lebih keras dari biasanya. Di sudut pikiranku, dosa-dosa kecil berbaris rapi. Dosa karena dulu pernah membantahnya. Dosa karena tak sempat pula...

(Monolog 4) TAHTA DI MEJA MAKAN

Gambar

TAK PERNAH SELESAI KUKETAHUI

  Aku tak pernah tahu dawai-dawai mana yang ia suka. Apakah ia lebih memilih denting piano klasik atau justru petikan gitar yang sederhana? Aku tak tahu apakah lagu-lagu patah hati menyentuhnya lebih dalam, atau justru ia lebih senang berdamai lewat musik tanpa lirik yang hanya berbicara lewat nada dan sunyi. Aku juga tak tahu wewangian apa yang selalu ia pakai. Apakah aroma vanila yang lembut? Atau wangi melati yang diam-diam menyelinap pelan? Kadang, saat ia lewat, hanya tersisa jejak samar yang lebih menyerupai kenangan daripada parfum. Aku tak tahu manisnya teh yang ia pilih di sore hari. Apakah ia suka teh melati hangat dalam cangkir keramik, atau teh lemon yang dingin dengan potongan es dan diam-diam menyimpan getir? Aku bahkan tak tahu apakah ia memilih teh karena ia butuh rasa manis, atau hanya karena tak ingin kopi membuat malamnya makin panjang. Aku tak tahu tempat mana yang jadi pelariannya ketika dunia terlalu ramai. Pantai yang sepi? Jalan-jalan kota saat dini hari? At...

(Monolog 3) SESEORANG TAK BERPAYUNG

  (Hening, suara hujan terdengar samar. Seseorang berdiri di tengah panggung, menatap dari kejauhan. Ia menarik napas panjang, lalu mulai berbicara, suaranya tenang, namun menyimpan beban.)   Dulu Aku selalu percaya. Aku bisa membuat seseorang melihat dunia dengan cara yang berbeda.   Dulu aku percaya itu.   (Ada jeda, ia tersenyum kecil, getir.)   Aku pernah berdiri di tengah hujan seperti ini, memegang payung, dan mencoba menawarkannya kepada seseorang.   Aku melihatnya berjalan dengan langkah pelan, membiarkan hujan membasahi rambut, pakaian, dan kulitnya.   Aku tahu dinginnya. Aku tahu tubuhnya menggigil. Aku tahu di dalam hatinya, ada rasa tidak nyaman, mungkin juga rasa sakit.   Jadi aku berkata, “Mari berteduh, aku punya payung.”   Tapi ia hanya tersenyum kecil dan menggeleng.   Ia berkata, “Aku baik-baik saja.”   Aku tidak mengerti.   Bagaimana bisa ia bilang baik-b...

(Monolog 2) SARAPAN SEBELUM TIDUR

"Sudah berapa lama jaring laba-laba itu bersarang di sana?" masih dengan mata yang teduh dan suara parau. Aku menjawab, "Mereka sudah lama di sana, aku takut laba-laba, maka tak ku bersihkan sarangnya." Dalam keheningan malam yang melingkupi kami, jaring-jaring halus itu berkilau lembut, menampakkan cahaya rembulan. Seolah setiap benang yang melintang membawa cerita yang tak terucapkan. Kisah tentang kesepian, keabadian, dan harapan yang tertahan di antara celah-celahnya.  "Seharusnya kau tidak takut" ia melanjutkan, menatapku dengan tatapan yang dalam. "Laba-laba itu hanya menjalani takdirnya, sama seperti kita." Aku tertegun sejenak, menggenggam erat cangkir teh yang mengepul hangat di tanganku. Aroma harum menyusup ke dalam hati, seolah mengajak jiwa ini berbincang.  "Kau lihat, tuan" kataku, dengan suara bergetar di antara desiran angin malam. "Laba-laba mengajarkan kita tentang kesabaran. Dalam diam, mereka menunggu mangsanya....