(Monolog I) BALIHO KOSONG DI TENGAH KOTA
Pagi, seperti sebuah orkestra yang tidak pernah lelah, mengalun meriah di jalan-jalan sempit kota. Orang-orang, seperti barisan pelari dalam lomba yang tak kunjung usai, bergerak penuh semangat, seakan taruhan tak tertulis menggantung di udara. Aku, dalam kesendirian helm yang memburam, memejamkan mata sejenak, membiarkan geramku menjalar dalam bisikan batin, “Bisakah mereka bersabar?” Seru batinku, terperangkap di balik kaca helm yang mengaburkan pandangan.
Arloji yang menari di pergelangan tangan mengungkapkan waktu dengan ketelitian, tepat pukul enam pagi. "Hmm," gumamku, setidaknya hari ini jantungku tak dipaksa menari liar dalam ritme yang menegangkan. Di persimpangan, pedagang-pedagang berserakan, menciptakan kekacauan dalam arus jalan yang terganggu. Di seberang sana, pasar tradisional memeriahkan suasana dengan hiruk-pikuknya.
Aku membuka kaca helm, membenahi jilbab yang kini telah kehilangan kesempurnaan awalnya, menyerupai lukisan yang hampir pudar oleh waktu. Di cermin-cermin besar yang terpajang di pinggiran trotoar, aku mencuri-curi pandang, berusaha memperbaiki diri, malu akan penampilanku. Ternyata, seorang bapak penjual melihat tingkahku. Dengan senyuman lembut, beliau tanpa kata menyapa, dan aku membalas senyumnya, sebagai ungkapan terima kasih yang tulus.
Langit di atas tampak mendung, seolah enggan membiarkan matahari menyinari hari ini. Aku khawatir, hujan akan turun sebelum aku sampai. Bapak ojol yang bersamaku tampak tak sabar, menuturkan dengan lembut, “Maaf, mbak, nggak bisa ngebut, macet di daerah sini.” Aku mengangguk, meski dalam hati ada rasa kesal yang membuncah, namun aku tetap tersenyum tipis. Lagi pula, keterlambatan bukanlah musuh hari ini.
Pandangan mataku beralih ke gedung-gedung tinggi di sekeliling, dan di sana, di antara betapa megahnya mereka berdiri, terlihat baliho besar yang seolah kosong, menanti pesan yang belum tertulis. Sejenak, aku terdiam, merenungkan betapa seperti baliho itu, kadang kita juga menunggu pesan yang belum datang, di tengah hiruk-pikuk kehidupan yang tak pernah berhenti.
Dalam kekosongan baliho dan mendung langit, aku mencari makna, dalam perjalanan yang tak pernah henti, aku berharap ada arti yang tersembunyi di setiap langkah dan setiap senyuman, di antara kekacauan yang ada, dan di balik semua itu, mungkin, akan muncul hari yang lebih cerah.
Komentar
Posting Komentar