RENJANA

Dokumentasi Pameran Dendang Calon Guru #18
Taman Budaya Yogyakarta, Januari 2024




Ia hampir lupa bagaimana hujan membisikkan lagu lembutnya,  
Tetes-tetesnya menari di jendela berembun,  
Menyusup ke dalam sunyi malam,  
Menyentuh jiwa yang tenggelam dalam memori yang samar.

Di pojokan kedai kopi, dalam cahaya remang-remang,  
Ia dulu menemukan pelarian dalam aroma hangatnya,  
Tempat di mana rindu terbungkus dalam cangkir-cangkir tua,  
Saksi bisu dari perbincangan yang tak pernah usai,  
Tentang mimpi-mimpi yang selalu berada di ujung harapan.

Baginya, semua yang dahulu dicintai kini terasa hampa,  
Seperti bayangan yang memudar dalam kabut waktu yang tak berhenti berputar,  
Ada kesedihan yang tak sepenuhnya terhapus oleh tawa yang tampak ceria,  
Tawa yang menyembunyikan luka mendalam, yang tak kunjung sembuh.

Ia terikat pada banyak hal—perasaan yang tak bisa disingkirkan dalam sekejap mata,  
Atau rindu yang membara dalam setiap denyut nadi yang tiada henti,  
Mencari jawaban pada pertanyaan yang tak pernah terucapkan,  
Tentang kapan dan di mana kedamaian akan menghampirinya.

Tentang takdir, ia pernah percaya bahwa apa yang dijaga tidak selalu akan abadi,  
Namun egonya seringkali melawan, menolak untuk menyerah pada kenyataan,  
Berkecamuk dalam konflik batin yang tiada akhir,  
Menolak tunduk pada waktu yang hanya menawarkan satu kabar: harapan samar.

Tahun-tahun berlalu, dan waktu menjadi satu-satunya penyembuh yang mungkin,  
Dalam belenggu waktu, pikirannya sesekali kembali ke masa yang telah berlalu,  
Lukanya mungkin masih membekas, seperti jejak peluh di pagi hari,  
Namun ia berusaha untuk baik-baik saja, dan terus mencoba untuk tetap utuh.

Di bawah langit yang memudar, ia hampir lupa  
Bagaimana hujan menari lembut di malam yang sunyi,  
Bagaimana pojokan kedai kopi, yang dulu menjadi tempat teduhnya,  
Kini terhapus oleh kebisingan dan kesibukan yang tak pernah henti.

Ada kesedihan yang membayang dalam tawa yang tampak ceria,  
Terikat oleh rasa yang tak bisa lepas dalam sekejap mata,  
Rindu yang tetap mencari tempat pulang,  
Selalu begitu, dalam setiap hembusan napas dan sentuhan angin lembut,  
Dalam kabut waktu yang terus melingkupi jiwa,  
Renjananya, tak pernah benar-benar lenyap, hanya menyusut dalam diam.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

TAK PERNAH SELESAI KUKETAHUI

(Monolog 3) SESEORANG TAK BERPAYUNG