TAK PERNAH SELESAI KUKETAHUI

 Aku tak pernah tahu dawai-dawai mana yang ia suka.

Apakah ia lebih memilih denting piano klasik atau justru petikan gitar yang sederhana?

Aku tak tahu apakah lagu-lagu patah hati menyentuhnya lebih dalam,

atau justru ia lebih senang berdamai lewat musik tanpa lirik yang hanya berbicara lewat nada dan sunyi.


Aku juga tak tahu wewangian apa yang selalu ia pakai.

Apakah aroma vanila yang lembut?

Atau wangi melati yang diam-diam menyelinap pelan?

Kadang, saat ia lewat, hanya tersisa jejak samar

yang lebih menyerupai kenangan daripada parfum.


Aku tak tahu manisnya teh yang ia pilih di sore hari.

Apakah ia suka teh melati hangat dalam cangkir keramik,

atau teh lemon yang dingin dengan potongan es dan diam-diam menyimpan getir?

Aku bahkan tak tahu

apakah ia memilih teh karena ia butuh rasa manis,

atau hanya karena tak ingin kopi membuat malamnya makin panjang.


Aku tak tahu tempat mana yang jadi pelariannya ketika dunia terlalu ramai.

Pantai yang sepi?

Jalan-jalan kota saat dini hari?

Atau kamar yang sunyi dengan lampu kecil yang temaram?


Aku tak tahu siapa nama kecil yang ia sembunyikan sejak kecil

Atau apakah ia pernah menamai bintang-bintang

saat ia terlalu kesepian untuk berbicara pada manusia.


Aku tahu aku memang benar-benar tidak tahu tentangnya.

Tentang isi kepalanya yang barangkali penuh labirin,

tentang luka-luka kecil yang tak pernah ia tunjukkan,

tentang cerita-cerita yang ia simpan sendiri

karena takut orang lain menganggapnya lemah.


Tapi yang lebih ku tahu dari ketidak tahuanku adalah,

Aku ingin tahu.

Bukan karena penasaran yang dangkal,

Tapi karena mengenalnya adalah seperti membaca buku tanpa sampul

Aku tak tahu isinya tapi isinya penting dan itu cukup jadi alasan untuk membuka halaman demi halaman, meski kadang tak semua paragraf mudah dimengerti.


Aku ingin tahu caranya ia tertawa saat benar-benar bahagia,

bukan hanya tertawa karena sopan.

Aku ingin tahu nada suaranya saat ia tidak sedang kuat.

Aku ingin tahu apa yang membuatnya merasa pulang.

Bukan karena aku harus tahu. Tapi karena aku mau.


Dan dalam dunia yang serba cepat ini,

kadang yang mau tahu saja sudah langka.

Karena pada akhirnya, bukan tentang seberapa banyak aku tahu,

tapi seberapa dalam aku ingin tetap tinggal bahkan ketika aku tahu, 

aku akan selalu punya bagian yang tak pernah benar-benar bisa aku mengerti sepenuhnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Monolog 2) SARAPAN SEBELUM TIDUR

(Monolog 3) SESEORANG TAK BERPAYUNG

RENJANA