(Monolog 3) SESEORANG TAK BERPAYUNG
(Hening, suara hujan terdengar samar. Seseorang berdiri di tengah panggung, menatap dari kejauhan. Ia menarik napas panjang, lalu mulai berbicara, suaranya tenang, namun menyimpan beban.)
Dulu Aku selalu percaya. Aku bisa membuat seseorang melihat dunia dengan cara yang berbeda.
Dulu aku percaya itu.
(Ada jeda, ia tersenyum kecil, getir.)
Aku pernah berdiri di tengah hujan seperti ini, memegang payung, dan mencoba menawarkannya kepada seseorang.
Aku melihatnya berjalan dengan langkah pelan, membiarkan hujan membasahi rambut, pakaian, dan kulitnya.
Aku tahu dinginnya. Aku tahu tubuhnya menggigil. Aku tahu di dalam hatinya, ada rasa tidak nyaman, mungkin juga rasa sakit.
Jadi aku berkata, “Mari berteduh, aku punya payung.”
Tapi ia hanya tersenyum kecil dan menggeleng.
Ia berkata, “Aku baik-baik saja.”
Aku tidak mengerti.
Bagaimana bisa ia bilang baik-baik saja, kalau aku melihat sendiri bibirnya membiru?
Bagaimana bisa ia bilang baik-baik saja, kalau aku melihat tangannya bergetar?
(Ada jeda, suaranya lebih lirih.)
Jadi aku mencoba lagi.
Kali ini aku lebih sabar. Aku lebih lembut. Aku lebih meyakinkan.
Aku bilang, “Aku hanya ingin membantumu. Aku tidak ingin kau jatuh sakit.”
Tapi lagi-lagi, ia tersenyum kecil dan menggeleng.
“Aku memilih ini,” katanya.
Dan aku semakin tak mengerti.
Kenapa seseorang memilih untuk tetap berdiri dalam hujan?
Kenapa ia menolak kehangatan?
Kenapa ia lebih memilih menggigil daripada menerima bantuan?
Aku mulai bertanya-tanya,
mungkin aku yang salah.
Mungkin aku yang terlalu memaksa.
Mungkin aku yang tak mengerti bahwa ada orang-orang yang memang ingin merasakan dinginnya hujan.
(Kepalanya menunduk, ia menghela napas.)
Tapi aku tetap tidak menyerah.
Aku tetap berdiri di sana, memegang payung, berharap suatu hari ia akan mengubah pikirannya.
Aku pikir, jika aku cukup bersabar, ia akan menyadari bahwa ia bisa berteduh.
Aku pikir, jika aku cukup peduli, ia akan melihat bahwa aku tidak ingin apa-apa, hanya ingin ia selamat.
Tapi hari-hari berlalu.
Hujan turun, hujan reda, lalu hujan turun lagi.
Dan ia tetap di sana. Tetap basah, tetap menggigil, tetap tersenyum kecil dan berkata, “Aku baik-baik saja.”
(Ada jeda, ia menatap ke kejauhan, seolah menyadari sesuatu.)
Lalu aku mulai melihat sesuatu yang berbeda.
Mungkin… ia tidak benar-benar ingin berteduh.
Mungkin… hujan baginya bukanlah penderitaan, tapi bagian dari perjalanan.
Mungkin… rasa dingin itu adalah sesuatu yang harus ia lalui sendiri, tanpa payung, tanpa bantuan, tanpa aku.
Dan aku mulai bertanya pada diriku sendiri,
apa gunanya terus menawarkan payung kepada seseorang yang tak ingin berteduh?
Aku hanya bisa menunjukkan jalan,
tapi aku tidak bisa menggiring langkahnya ke sana.
(Ada keheningan. Ia menghela napas panjang, menatap langit, lalu tersenyum kecil.)
Jadi aku berhenti.
Karena aku sadar bahwa ia harus merasakan hujan lebih lama sebelum akhirnya mencari teduh.
Aku melipat payungku.
Aku melangkah pergi.
Bukan karena aku tidak peduli,
tapi karena aku akhirnya mengerti…
Seseorang itu hanya akan berteduh
jika ia sendiri yang menginginkannya.
(Suara hujan perlahan memudar. Seseorang itu berjalan menjauh, meninggalkan panggung.)
Komentar
Posting Komentar