BRANKAR BERSELIMUT DOSA
Denyit roda tak kuhirau lagi, hanya denyut nadi yang kuharap bersemayam dalam jelma-Nya.
Di atas ranjang besi itu, tubuh renta kakek tampak begitu kecil seolah dunia telah mengecilkan segala yang pernah gagah darinya.
Tangannya gemetar, jari-jarinya seperti sedang menghitung sisa waktu yang terselip di antara lipatan sprei rumah sakit.
Aku menatap wajahnya lama, terlalu lama, hingga lupa cara membedakan antara napas dan doa.
Dulu, tangan itulah yang menuntunku belajar berbagai hal, menepuk bahuku saat aku gagal, dan mengajarkan bahwa hidup bukan perkara menang, melainkan perkara bertahan.
Namun, kini tangan itu seperti berjuang melawan udara sendiri.
Aku ingin berbicara, tapi lidahku seolah ikut diseret mesin pernapasan yang berdengung di sampingnya.
Aku hanya bisa mendengar bisikan suster, suara monitor, dan detak jantungku sendiri yang terasa lebih keras dari biasanya.
Di sudut pikiranku, dosa-dosa kecil berbaris rapi.
Dosa karena dulu pernah membantahnya.
Dosa karena tak sempat pulang saat ia mulai sakit.
Dosa karena baru kini, di hadapan tubuh ringkihnya, aku sadar betapa dalam kasih yang tak pernah ia ucapkan.
Brankar itu bukan sekadar tempat menidurkan tubuh, tapi altar kecil tempat dosa-dosa menunduk dan kasih menua dalam sunyi.
Aku menatap kakekku sekali lagi dengan harap sederhana semoga Tuhan membisikkan jalan pulang yang paling lembut untuknya.
Komentar
Posting Komentar