Postingan

TAK PERNAH SELESAI KUKETAHUI

  Aku tak pernah tahu dawai-dawai mana yang ia suka. Apakah ia lebih memilih denting piano klasik atau justru petikan gitar yang sederhana? Aku tak tahu apakah lagu-lagu patah hati menyentuhnya lebih dalam, atau justru ia lebih senang berdamai lewat musik tanpa lirik yang hanya berbicara lewat nada dan sunyi. Aku juga tak tahu wewangian apa yang selalu ia pakai. Apakah aroma vanila yang lembut? Atau wangi melati yang diam-diam menyelinap pelan? Kadang, saat ia lewat, hanya tersisa jejak samar yang lebih menyerupai kenangan daripada parfum. Aku tak tahu manisnya teh yang ia pilih di sore hari. Apakah ia suka teh melati hangat dalam cangkir keramik, atau teh lemon yang dingin dengan potongan es dan diam-diam menyimpan getir? Aku bahkan tak tahu apakah ia memilih teh karena ia butuh rasa manis, atau hanya karena tak ingin kopi membuat malamnya makin panjang. Aku tak tahu tempat mana yang jadi pelariannya ketika dunia terlalu ramai. Pantai yang sepi? Jalan-jalan kota saat dini hari? At...

(Monolog 3) SESEORANG TAK BERPAYUNG

  (Hening, suara hujan terdengar samar. Seseorang berdiri di tengah panggung, menatap dari kejauhan. Ia menarik napas panjang, lalu mulai berbicara, suaranya tenang, namun menyimpan beban.)   Dulu Aku selalu percaya. Aku bisa membuat seseorang melihat dunia dengan cara yang berbeda.   Dulu aku percaya itu.   (Ada jeda, ia tersenyum kecil, getir.)   Aku pernah berdiri di tengah hujan seperti ini, memegang payung, dan mencoba menawarkannya kepada seseorang.   Aku melihatnya berjalan dengan langkah pelan, membiarkan hujan membasahi rambut, pakaian, dan kulitnya.   Aku tahu dinginnya. Aku tahu tubuhnya menggigil. Aku tahu di dalam hatinya, ada rasa tidak nyaman, mungkin juga rasa sakit.   Jadi aku berkata, “Mari berteduh, aku punya payung.”   Tapi ia hanya tersenyum kecil dan menggeleng.   Ia berkata, “Aku baik-baik saja.”   Aku tidak mengerti.   Bagaimana bisa ia bilang baik-b...

(Monolog 2) SARAPAN SEBELUM TIDUR

"Sudah berapa lama jaring laba-laba itu bersarang di sana?" masih dengan mata yang teduh dan suara parau. Aku menjawab, "Mereka sudah lama di sana, aku takut laba-laba, maka tak ku bersihkan sarangnya." Dalam keheningan malam yang melingkupi kami, jaring-jaring halus itu berkilau lembut, menampakkan cahaya rembulan. Seolah setiap benang yang melintang membawa cerita yang tak terucapkan. Kisah tentang kesepian, keabadian, dan harapan yang tertahan di antara celah-celahnya.  "Seharusnya kau tidak takut" ia melanjutkan, menatapku dengan tatapan yang dalam. "Laba-laba itu hanya menjalani takdirnya, sama seperti kita." Aku tertegun sejenak, menggenggam erat cangkir teh yang mengepul hangat di tanganku. Aroma harum menyusup ke dalam hati, seolah mengajak jiwa ini berbincang.  "Kau lihat, tuan" kataku, dengan suara bergetar di antara desiran angin malam. "Laba-laba mengajarkan kita tentang kesabaran. Dalam diam, mereka menunggu mangsanya....

RENJANA

Gambar
Dokumentasi Pameran Dendang Calon Guru #18 Taman Budaya Yogyakarta, Januari 2024 Ia hampir lupa bagaimana hujan membisikkan lagu lembutnya,   Tetes-tetesnya menari di jendela berembun,   Menyusup ke dalam sunyi malam,   Menyentuh jiwa yang tenggelam dalam memori yang samar. Di pojokan kedai kopi, dalam cahaya remang-remang,   Ia dulu menemukan pelarian dalam aroma hangatnya,   Tempat di mana rindu terbungkus dalam cangkir-cangkir tua,   Saksi bisu dari perbincangan yang tak pernah usai,   Tentang mimpi-mimpi yang selalu berada di ujung harapan. Baginya, semua yang dahulu dicintai kini terasa hampa,   Seperti bayangan yang memudar dalam kabut waktu yang tak berhenti berputar,   Ada kesedihan yang tak sepenuhnya terhapus oleh tawa yang tampak ceria,   Tawa yang menyembunyikan luka mendalam, yang tak kunjung sembuh. Ia terikat pada banyak hal—perasaan yang tak bisa disingkirkan dalam sekejap...

(Monolog I) BALIHO KOSONG DI TENGAH KOTA

Pagi, seperti sebuah orkestra yang tidak pernah lelah, mengalun meriah di jalan-jalan sempit kota. Orang-orang, seperti barisan pelari dalam lomba yang tak kunjung usai, bergerak penuh semangat, seakan taruhan tak tertulis menggantung di udara. Aku, dalam kesendirian helm yang memburam, memejamkan mata sejenak, membiarkan geramku menjalar dalam bisikan batin, “Bisakah mereka bersabar?” Seru batinku, terperangkap di balik kaca helm yang mengaburkan pandangan. Arloji yang menari di pergelangan tangan mengungkapkan waktu dengan ketelitian, tepat pukul enam pagi. "Hmm," gumamku, setidaknya hari ini jantungku tak dipaksa menari liar dalam ritme yang menegangkan. Di persimpangan, pedagang-pedagang berserakan, menciptakan kekacauan dalam arus jalan yang terganggu. Di seberang sana, pasar tradisional memeriahkan suasana dengan hiruk-pikuknya. Aku membuka kaca helm, membenahi jilbab yang kini telah kehilangan kesempurnaan awalnya, menyerupai lukisan yang hampir pudar oleh waktu. Di ce...

MENDAKI BUKIT MATAMU

Gambar
  Riuh rendah gelapnya hidup menjadi kisah lain Warna pelangi bagai hilang tepi Menghadirkan berjuta badai Di antara hadirku yang kesia-siaan.   Tertatih merintih untuk menepi Kalut asa berkecamuk menghampiri Hingga hilang sedu-sedan ini Saat ikrar terucap suci.   Almanak lusuh ku ganti Tanggal-tanggal menjelma, tak ada lagi nama hari Malam dan siang terlahir dariku Segala di dunia tergadai Hela nafaspun tak sampai kurasa Demi bongkahan tanah dengan kilau mengisi Menuainya untukmu.   Mendaki bukit matamu Selepas pelukan itu Aku tak gentar menyala,dalam bara rokokku sendiri Pada waktu yang terlewat ribuan rokok telah kuhisap Tanpa kata aku mengayuhnya Saat engkau terlelap dalam singgasana Tapi tak akan ku biarkan angkara menerpamu Meski apa itu? Di matamu.