Pagi, seperti sebuah orkestra yang tidak pernah lelah, mengalun meriah di jalan-jalan sempit kota. Orang-orang, seperti barisan pelari dalam lomba yang tak kunjung usai, bergerak penuh semangat, seakan taruhan tak tertulis menggantung di udara. Aku, dalam kesendirian helm yang memburam, memejamkan mata sejenak, membiarkan geramku menjalar dalam bisikan batin, “Bisakah mereka bersabar?” Seru batinku, terperangkap di balik kaca helm yang mengaburkan pandangan. Arloji yang menari di pergelangan tangan mengungkapkan waktu dengan ketelitian, tepat pukul enam pagi. "Hmm," gumamku, setidaknya hari ini jantungku tak dipaksa menari liar dalam ritme yang menegangkan. Di persimpangan, pedagang-pedagang berserakan, menciptakan kekacauan dalam arus jalan yang terganggu. Di seberang sana, pasar tradisional memeriahkan suasana dengan hiruk-pikuknya. Aku membuka kaca helm, membenahi jilbab yang kini telah kehilangan kesempurnaan awalnya, menyerupai lukisan yang hampir pudar oleh waktu. Di ce...