MEMAKNAI AKU DAN KAU

 

Ku maknai aku,

Sekelebat musim-musim lusuh

Perempuan rusuh

Dengan luka yang tertuang

Pada secangkir kalut

Yang menangkap bulan tepat di tengahnya.


Ku maknai aku,

Malam yang mengaratkan usia

Menerima kebisingan tanpa kebijaksanaan

Menua senasibnya


Ku maknai aku,

Gedung bertingkat dan trotoar

Tiba-tiba menjadi rimba

Tempat banyak harimau dan batang kayu.


Ku maknai aku,

Taman yang lebih pandai melukis bangau

Menjadi nyanyian kayu terbakar

Yang saling tikam dengan kemesraan.


Kau maknai aku,

Langit menguning malam menyerah

Lembar-lembar kesadaran telah kita tinggalkan membumbung

Tak ada asap tak ada sekam

Hanya musim do'a

Melenggang lengang menuju keabadian.


Ku maknai kau,

Masih bolehkah aku meminta malam-malammu itu kekasih 

Sebagai penghulu 

Antara aku dan surga 

Sebaqanya                                                                                                               

Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Monolog 3) SESEORANG TAK BERPAYUNG

TAK PERNAH SELESAI KUKETAHUI